Subscribe to my full feed.

Monday, June 22, 2009

Skirmishes

I've started the incursion several months back
My swords, my shield now rattling with the resistance
It's not a unmapped field, and I had been dwelling there quite sometime
But still, a map can be obsolete by seconds

My point is, to drag a hell lot of them
to kneel before themselves
to make terms with their past
to admit defeat
and then to plunge themselves to uncharted waters,
building political new-think...

Tuesday, June 09, 2009

butuh

butuh berada


butuh di antara


butuh tergerak


....



Monday, April 06, 2009

Fear and paranoia

Does a person who has been raised in fear have a paranoid social outlook?



Thursday, October 23, 2008

Time Capsule Note to "ma fille, qui est née de la liberté"

I assume that if you can read and comprehend this note, you already passed teenage several years back so you don't mix it with Melayu-Indonesia or Français. This note is made around 15-17 years ago, again, assuming that Facebook, or Google, caches this note in an old hard drive, plugged in a aged server whose compatibility issues render it obsolete. And perhaps it is installed in one forgotten, ghost city somewhere in what was once called as the United States of America.

Having spent last weekend watching movies, I feel that I have to tell you things reminded to me by those movies. As I already expected, they were not great movies , but nevertheless they showed things I have been holding dear in the past 10 years. Quite funny that three of these movies are based on comic books.

The one movie I want to talk about is Wanted, the most fascinating one. Wikipedia informed me that Wanted was based on a anti-hero comic series, and it was a debut english-speaking film of Timur Bekmambetov. The latter is a Russian-Kazakh film and advertising director. Yes, it's an action film, and the good thing is that one can not expect a real good-guy-beats-bad-guy. While the story is quite twisted, its morality issue is somewhat discouragingly straightforward: the protagonist, whose name is Wesley Gibson, should fight the preverse nature of his newly found friends.

Nevertheless, it brought me back to a bit more than ten years ago. I can feel what he felt when he made himself into the self-revelation of his own hidden talents. It's empowering, it's sparking up the life, and it gives you a sense of purpose. His escapism from a boring life is the same thing that jolted in my vein during those days of daring moments. The years of living dangerously, some might say. A camarade once asked me about my motivation in one earlier stages of those years, my response was brief, "Adventure." In  a reflection on those days, I admit that it has not answered that particular question fully. As Wesley Gibson,the protagonist of Wanted, said when he pulled that trigger, "This is me taking back control of my life."

No more of taboo, conformity. Boring life is the result of our submission to those two, or fear for being the first to be different. Our lives are then condemned to the boredom because our light becomes similar to the neon light. Bright, white and pure, but lonely, empty and meaningless.

From there, you can see the sheer idiosincracy that lies inside the men and women with bellicose professions and confessions. Their ambition and obsession, or should I say perversion, for absolute control of everything has ultimately brought with them more and more destruction.

Every totalitarian attempt to control every aspects of life, of course even in the sense of the more subtle gardening gaze, should be put into suspicion. Especially of those who has the pretension to purify, purge, and cleanse our social life from animal, living being instincts. Their battle cries are marked with repression and censorship.

Alors, ma fille, t'es née de la liberté et j'ai échangé la mienne pour toi et ta vie. J'espère que t'auras aucune hésitation de la défendre.

Thursday, October 02, 2008

Pelajaran Berharga dari Anak

Catatan: Sebelum anda akan membaca lebih lanjut, saya beritahukan isi tulisan ini agak menjijikkan buat orang-orang tertentu.

Ada banyak hal yang saat ini terserap dengat tidak sengaja ke dalam kepala saya. Dan salah satunya adalah mengenai keinginan menulis soal opsi-opsi politik kelompok demokratik sehubungan dengan Pemilu 2009.

Anak saya, kini berusia 21 bulan, sudah hampir tiga hari tidak kunjung buang air besar (Last warning: Minggat atau tanggung sendiri!). Dengan perginya pengasuh anak bayaran ke kampungnya, maka persoalan ini juga masuk ke kepala saya, karena saya kembali terlibat langsung dalam pergantian popok dan urusan memandikannya. Setiap kali saatnya berganti popok sekali pakai/diaper, saya menantikan muatan khusus tersebut. Saya semakin risau dengan dengan hal ini. Kalian juga pasti bisa membayangkan rasanya jika tidak keluar berak selama tiga hari!

Tadi pagi, saya memandikan dia. Sebelumnya saya sudah senang dengan sinyal-sinyal positif di wajahnya, terlihat dia sedang mendorong keluar "muatan" tersebut. Tapi, sewaktu diapernya saya buka, saya hanya melihat bercak-bercak coklat. Saya tahu, itu pasti keluarnya dari rectum anak saya, tapi dengan wajah yang serius "mengeden" sebelum mandi, saya tidak menduga kalau keluarnya cuma bercak.

Tapi saya hiraukan pertanyaan itu dan lanjut memandikan dia.

Selesai mandi, di saat saya mau mengeringkan badannya, saya lihat muncul tetesan warna coklat gelap mengalir di paha anak saya. Segera saya angkat dia dari ranjang dan membawanya ke kamar mandi, menghindari upaya pembersihan ranjang yang lebih sulit di waktu-waktu sekarang. Agak bingung, karena pertama kali saya melihat ini. Saya sempat menduga apa dia kena diare atau penyakit perut lainnya.

Ternyata bukan, segera setelah saya mengangkatnya ke toilet duduk dan mencoba membersihkan aliran coklat tersebut, saya menyentuh benda sedikit keras di mulut anus anak saya. Sumber otentik dari cairan coklat yang saya sebutkan.

Rupanya, karena menggunakan diapers setiap saat, anak saya tidak bisa menjalankan "tugas"nya dengan cara yang lain. Bahkan, dengan diapers, dia bisa melakukannya sambil tidur-tiduran. Nah, dengan kurang teratur makanan yang dia makan, maka dipastikan spesifikasi produk perutnya akan berbeda. Anak saya akhirnya melakukannya di atas toilet duduk. Sebuah metode yang berbeda, tapi menghasilkan.

Untuk tulisan itu, saya mungkin harus menggunakan metode yang berbeda untuk menulis hal itu. Dengan yang sama, saya cuma bisa menuliskan "Boulangisme", memang penting namun masih berada di pinggiran persoalan sesungguhnya.

Mungkin dengan sedikit "ngeden" dan WC yang berbeda, tulisan itu bisa keluar....

Wednesday, September 17, 2008

Memasak

Sebenarnya sudah lama, cuma agak jarang belakangan karena division of labor di rumah masih tak kunjung menemukan solusi mantab untuk keluar dari koridor jender yang tradisional. Tapi, karena sekarang kembali sendiri di bawah alasan penghematan Avtur (baca: tiket pesawat), kemarin memasak kembali menjadi keseharian.

Tahu apa yang dimasak? Nasi goreng, he he he, kesannya apa gitu, masak, cuma nasi goreng taunya. Berasnya beras Jepang, bukan gaya, tapi kadang rindu juga sama beras bulet-bulet Jepang yang biasanya ada di sushi roll. Campuran lainnya abon spesial, yang sebelumnya sempat mengalami percobaan pencurian oleh para pionir semut setempat (diselesaikan dengan penggusuran paksa). Campur sana campur sini, seng-seng-seng (ini suara codet kayu beradu dengan wajan tefflon), voila! jadi nasi gorengnya. Dan enak! Tapi jangan tanya bagaimana dan apa saja yang dicampur (atau diramu, menilik pada jaman mengumpul dan meramu?). Sumpah mati gak inget...

Tapi mengingat masak memasak membawa sebuah pikiran yang lain. Perhatian utama soal opsi-opsi yang tersedia menjelang Pemilu dan Pilpres 2009.

Sudah dua bulan ini, selayak telur yang akan keluar dari kloaka unggas, ada keinginan untuk menulis soal itu. Untungnya catatan soal Boulanger sudah tersebar luas (lihat di sini). Minimal aspek relegitimasi militerisme melalui jalan populisme sudah sedikit ditanggapi.

Apa hubungannya dengan memasak? Banyak orang tampaknya menganggap opsi-opsi elektoral dan non-elektoral itu seperti menu-menu yang menjadi definisi restoran. Jadi seperti pilihan-pilihan yang sudah tersedia, bahkan diperbandingkan dan diperdebatkan seperti sebuah pakem. Kalau sate kambing, itu harus bumbu kecap-cabe-bawang-merica (tapi kalau gak suka cabe-merica, ya terpaksa pesan ulang kan kalau mau tetap menikmati hingga puncaknya).

Kalau demokrasi terbuka, itu harus ikut Pemilu, nebeng partai orang gak papa, punya partai sendiri ya lebih baik (tapi lolos gak?). Kalau demokrasi dinilai diskriminatif, membatasi partisipasi rakyat jelata, dll, maka harus diboikot. Demokrasi harus didelegitimasi, dan seterusnya. Jadi, situasi yang ada, direpresentasikan sesuai dengan menu yang tersedia. Partisipasi elektoral terbuka vs. delegitmasi kekuasaan neoliberal. Ini baru satu sudut pertarungan. Sudut yang lain, masih belum dieksplorasi. Menunggu waktu.

Kembali soal hubungan memasak dengan tulisan itu, mengambil pilihan dalam menu itu yah sudah bisa ketebak rasanya kan? Bisa dibayang-bayang, apalagi kalau sudah mengenal resepnya. Tapi apakah opsi politik bisa dibayangkan, dipresentasikan dan direpresentasikan seperti halnya resep masakan yang bisa ditanyakan dan ditiru dari Asian Food Channel (kanal TV kabel dan website yang bagus dengan menu-menu praktis), seperti halnya kita kemudian dapat memilih opsi politik resep Chavez, resep Lula, atau menu Paraguay atau Restoran khas Amerika Latin, yang kini menjamur di kalangan pergerakan demokratik di Indonesia. Atau sebenarnya menentukan opsi politik itu seperti memasak sendiri di rumah, gak terlalu mengikuti resep sembari coba-coba dengan campuran rempah-rempah, buah dan sayur serta daging yang berbeda, untuk misalnya bikin nasi goreng sendiri. Ini bukan berarti mengatakan tidak penting untuk menonton Asian Food Chanel ataupun pergi ke restoran yang terkenal dengan makanan lezat. Seperti kata istri yang kini terpisah 2000an kilometer, "Bagaimana mungkin tukang masak rumahan bisa masak dengan lezat kalau tidak pernah mencicipi apa itu kelezatan?"

Wisdom seems to come from unexpected sources, my friend.

Friday, September 12, 2008

Persimpangan berikutnya sudah dekat

Rasanya seperti kata-kata Belle and Sebastian dicampur Noir Desir. Tidur melayang  sepanjang sorot sinar matahari dan angin akan membawa kita. Yang pasti kembali pertanyaan,

"Wewangian dari tahun-tahun kita yang mati

Mereka yang bisa mengetuk pintumu

Nasib yang tak terbatas

Satu yang ditanyakan, apa yang tersisa untuk kita?"

(Le vent nous portera, Noir Desir)

Gelombang besar, mungkin akan datang?