Subscribe to my full feed.

Wednesday, April 07, 2004

Jenakanya Intelektual Borjuis Indonesia

kemarin sebuah email tiba. bersorak sorai tentang pemilu yang demokratis. bersorak sorai tentang bangganya menjadi muslim. bersorak sorai tentang kebodohan para pesimis yang meramalkan kerusuhan.

alangkah naifnya. buat apa demokrasi kalau yang menang mereka yang anti demokrasi? buat apa demokrasi kalau secercah harapan ternyata datang dari satria piningit yang cuma ingin kelihatan cerdas tapi dasarnya bermental jongos-tukang pukul profesional dan kaum fundamentalis religius berwatak oportunis habis. buat apa demokrasi kalau semua partai dan caleg berjanji setia kepada para fundamentalis pasar bebas.

satu, dua hari demokrasi dan lima tahun hidup kita dikangkangi mereka yang tak pernah kita pilih.

apologia: yah memang demokrasi itu bukan sesuatu yang sempurna..., itu yang mereka katakan ketika Hitler naik berkuasa di Jerman tahun 1933.

lucu: merasa lebih pintar dari tukang pukul berloreng tapi tak pernah bisa mengalahkan mereka. alah, mau bilang liberalisme barat, barat is the best, saja sudah takut.

sudahlah nak, mereka itu sudah lupa kalau liberalisme yang mereka impikan dulu menang dengan memenggal kepala raja-raja eropa. mereka sudah lupa kalau parlemen dan universal suffrage itu buah dari pemberontakkan rakyat yang bertemu dengan kebijakan dari raja-raja yang merasa akan dipenggal. mereka lupa untuk mempertahankan liberalisme itu perlu barikade dan musket.

kini: mereka tidak sadar semakin hari buih-buih liur demokrasi di mulut mereka sudah menjadi demokrasi tong sampah. demokrasi yang cocok dimasukkan ke dalam tong sampah sejarah.