Subscribe to my full feed.

Friday, May 28, 2004

racun itu....

untuk mereka yang terlalu bebal untuk mengerti...

mampus sudah tahap pertama babak maju, setelah sekian puluh tahun dilanda kemunduran. seperti biasa impotensi mereka yang mengklaim kebijaksanaan adalah penyebabnya. racun yang mereka sebar seperti pasir pada gerak roda kemajuan akhirnya harus mereka telan sendiri. pahit memang, tapi mereka akan tetap sabar, sesabar embun di atas daun talas. menanti angin kuat untuk menyucurkan diri. bedanya, jangan-jangan mereka malah melacurkan keyakinan mereka sendiri....

tertawalah mereka yang selalu dibelakang senapan, mereka yang (masih) berani menggunakan s'patu lars untuk menyumbat mulut orang-orang yang mereka perkosa. "ini adalah hari baik untuk mati!" teriak mereka sambil melepaskan serentetan peluru ke khalayak buta, buta masa depan atau sebatas buta kenyataan.

yang jangan-jangan dibutakan oleh para pengklaim kebijaksanaan...

para benalu yang menjerat progres, para pengklaim kebijaksanaan itu, memang agak berbeda di sini. mereka lebih suka lompat sana lompat sini seperti monyet sirkus di tengah tawa hadirin berloreng, daripada mengambil pistol mereka. lebih suka remah-remah roti tanpa pernah mau berpikir bagaimana mendapatkan satu roti penuh untuk semua. harusnya mereka bertanya: "apakah kambing dan domba senang akan datangnya hari raya kurban?"




(2)
pertanyaan: bagaimana minoritas yang terepresi bisa membebaskan diri mereka?
pilihan jawaban:

1. aksi terorisme (ramuan frustasi dengan militansi gila-gilaan plus harapan-harapan martirisme)
2. lari (berganti kewarganegaraan, pindah sejauh-jauhnya, dst)
3. berupaya dengan kampanye diam-diam, dengan bahasa-bahasa yang diubah, dengan hidup (bersembunyi) di antara mereka yang bisa menerima saja.
4. bergabung kekuatan lain yang sedang menghantam struktur kungkungan mereka

apa jawaban dari para pengklaim kebijaksanaan?
- nomor 3, seperti tak pernah belajar dengan benar perubahan-perubahan politik negeri-negeri lain saja........ (pernah belajar dari holokaus atau pernah mendengar istilah pogrom?)