Subscribe to my full feed.

Thursday, November 18, 2004

... dan temanku tetap berkata, « tertidur, jangan...»

Sorot matamu tak lagi cerah,
tak lagi seperti nyala suar yang terangi malam,
demi mereka yang berlayar menembus kegelapan.

Sorot matamu tak lagi membara,
tak lagi seperti panas perapian yang mengusir dingin,
demi mereka yang melalui malam bersalju.

Sorot matamu tak lagi berapi,
tak lagi seperti unggun yang beri keceriaan dan semangat,
demi mereka yang beristirahat dalam pengelanaan.

Mungkin mimpimu telah remuk,
rusak dan nista,
dihabisi sudah warnanya oleh putih tanpa akhir lampu neon.

Mungkin jiwamu t'lah terenggut,
t'lah terampas dan dihempaskan,
oleh jalan panjang sunyi sepi, terlahir dari pengasingan diri.

Sorot matamu memang terlampau layu,
untuk bawa lagi gempita menyeruak dari kungkungan kesuraman
Sorot matamu seperti bohlam lima watt
yang memberi warna sepia atas potret
seorang buruh membaca selebaran pemogokkan

...karenanya jangan tertidur, kawanku.