Subscribe to my full feed.

Thursday, June 15, 2006

Beda Barat dan Timur

Kenapa semua standar kehidupan sepertinya ditentukan Barat, ujar seseorang. Nah ini harus agak hati-hati, siapa yang anda maksud dengan Barat? Ada banyak jenis Barat. Anda bicara pemerintahnya? Rakyatnya? Jurnalisnya? Semuanya tidak utuh satu kesatuan. Terlebih kalau tidak mau membaca sejarah masyarakatnya, maka isi kepala anda adalah stereotyping. Hal sebaliknya juga sama prosesnya dengan orang Barat mengenai Timur. Juga stereotyping.

Hanya bedanya, semua standar barat yang kita kenal sekarang sebagai Demokrasi dan HAM, itu diperoleh dengan darah dan airmata, bergelombang-gelombang pemberontakkan. Itu yang tidak ada di Timur, kecuali kasus Vietnam dan Cina. Di Timur, kata pemberontakkan malah jadi terkesan negatif, sedangkan di Barat lebih positif. Akibatnya, bisa dilihat di Timur orang merindukan totalitarianisme dan takut pada kebebasan, terutama seperti sangat benci pada kebebasan berpendapat dan berbeda diri. Di Barat, kebebasan bukan ditegakkan pemerintah, tapi partisipasi aktif warganya dalam tindakan politik kolektif. Di Timur, khususnya Indonesia, Pakistan, India, warganya lebih banyak terlibat dalam mobilisasi menciptakan autoritarianisme-totalitarianisme baru dalam simbol-simbol yang tak ada hubungannya dengan kesejahteraan perut mereka.

Di Barat, solidaritas terhadap Palestina dan Irak, penolakkan terhadap serangan ke Iran, dibangun dari gerakkan mempertahankan perut (gerakan buruh) yang partisipasinya mencapai ratusan ribu. Di Indonesia, solidaritas terhadap Irak bisa mobilisasi jutaan orang, tapi untuk minta kenaikkan upah yang layak, bisa dihitung sampai ratusan ribu saja.

Di Barat, ada kepercayaan, rasa lapar tidak bisa dimanipulasi oleh apapun dan kebencian atas eksploitasi l'homme par l'homme sangat besar. Akan tetapi tampaknya di Timur (khususnya Indonesia) hal ini tidak berlaku. Daripada memprotes upah murah dan eksploitasi yang dialami oleh para pelayan bar di Jakarta, orang lebih memilih menghancurkan barnya dan membiarkan para pelayan itu tanpa pekerjaan. Daripada memprotes diskriminasi upah dan jabatan terhadap perempuan dan sistem patriarki yang menjadi akar nyata pelacuran, orang lebih memilih untuk menangkapi para pelacur. Dan itu semua atas nama moral.